Sabtu, 05 Januari 2013

Pulang kampung


Begini nih kisahnya …..

One day gue pernah denger kisah dari salah satu teman gue yang nge kost di bandung. Ampir tiap kali gue ketemu dia, dia selalu bahas tentang kampung halamannya di daerah pekan baru, dia cerita disana tuh enak banget, tetangganya ramah, teman-teman SMU dia slalu main bareng sama dia, apalagi keluarganya; adik nya yg masih sekolah di SD yang katanya cantik dan gemesin, nyokapnya yang pinter masak dan bokapnya yang bertugas sebagai Polisi selalu ngebanggain dia banget! Intinya dia keliatan “home sick” lah, mirip-mirip sama lagunya Michael Buble yang “Home”

Awalnya, jujur aja gue bosen beeuuuddd dengerin kisah dia, tapi lama kelamaan gue ngalamin apa yang sahabat gue rasakan loh!
Iya, gue rindu “Pulang Kampung”!!!

Tiap hari gue jalanin hidup gue dengan yang namanya rutinitas maha akut! 
Kerjaan gue yang tidak kenal waktu dari pagi sampai larut malam, keadaan dan posisi gue yang dipercayain menjadi leader dari satu kelompok psikiater muda dan spiritual, juga hubungan dengan teman-teman yang membuat gue tidak punya waktu yang berkualitas dalam hubungan gue dengan “rumah sejati" gue.

Apa sih “rumah sejati" itu?
Tubuh gue sendiri cooooyy!
Yup, gue nyaris ga bisa menghargai tubuh gue dalam beraktifitas, kadang lupa makan dan kurang tidur!
Sampai suatu ketika gue merasa beberapa tanggung jawab yang udah diberikan ke gue semua jadi acak-acakan, karena jujur aja gue ngerasa kecapekan yang teramat sangat.
Teguran yang terkadang menyakitkan gue terima satu persatu, padahal gue dulu adalah pribadi yang memiliki tanggung jawab yang baik loh!
Untuk membenahinya bukan hal yang gampang, yang namanya kepercayaan dan tanggung jawab itu tidak bisa dilanggar coy! Akhirnya perlahan gue coba membangkitkan kembali apa yang udah gue kacaukan sendiri dengan cara “pulang kampung” Menghargai apa yang sudah Tuhan berikan dalam hidup ini, termasuk “rumah” gue sendiri !
So, makna dari kisah ini adalah, dimana kita semua jangan sampai terobsesi dengan kekuasaan sehingga seringkali mengabaikan kelembutan!
Orang lemah lembut  pasti mendapatkan kekuasaan, namun orang yang berkuasa belum tentu memiliki kelembutan!
Karena orang yang lemah lembut akan dapat mengatur kehidupannya dengan cermat dan me-manage segala sesuatunya dengan maksimal, namun itu semua dimulai dari bagaimana kehidupannya yang selalu dapat mengharagai, baik sesamanya maupun dirinya sendiri!
Dan tidak lupa untuk senantiasa bersyukur kepada Sang Pencipta!

Selamat merenungi kehidupan kita semua!




Yuk mareeee kita PULANG KAMPUNG!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar